pagi musim panas di Selandia Baru terasa berbeda bagi Janice Tjen. Di antara deretan nama petenis dunia yang menghiasi daftar undian WTA 250 Auckland, satu nama mencuri perhatian dari Asia Tenggara: Janice Tjen. Bukan sekadar peserta, ia hadir sebagai unggulan kelima, sebuah status yang menandai lonjakan penting dalam perjalanan kariernya.
Bagi Janice, turnamen ini bukan hanya soal pertandingan demi pertandingan. Ini adalah panggung pembuktian — bahwa kerja keras bertahun-tahun, perjalanan panjang dari turnamen kecil hingga level WTA, akhirnya berbuah kepercayaan dan pengakuan.
Dari Penantang Menjadi Unggulan
Status unggulan kelima bukan datang secara kebetulan. Janice menapaki jalur yang jarang disorot lampu besar: mengumpulkan poin dari turnamen ITF, melewati laga-laga maraton, bertarung di lapangan-lapangan kecil dengan tribun nyaris kosong.
Setiap kemenangan kecil menjadi batu loncatan. Setiap kekalahan menjadi pelajaran. Kini, di Auckland, ia berdiri sejajar dengan petenis-petenis mapan — bukan lagi sebagai kuda hitam, melainkan sebagai pemain yang diperhitungkan.
Unggulan kelima berarti satu hal penting: ekspektasi. Janice tak hanya dituntut untuk bermain bagus, tetapi juga konsisten. Ia akan menjadi target lawan, bukan sekadar penantang tanpa beban.
Auckland: Ujian Awal Musim
Turnamen WTA 250 Auckland memiliki makna strategis. Digelar di awal musim, turnamen ini sering menjadi barometer kesiapan fisik dan mental para petenis sebelum memasuki rangkaian turnamen besar, termasuk Australian Open.
Lapangan keras Auckland menuntut servis solid, penguasaan baseline, dan stamina tinggi. Gaya bermain Janice — agresif namun terukur, dengan pukulan groundstroke yang stabil — dinilai cocok dengan karakter lapangan ini. Namun, tekanan mental sebagai unggulan akan menjadi tantangan baru.
Sebagai unggulan kelima, Janice diprediksi memiliki jalur undian yang relatif menguntungkan, setidaknya di babak awal. Tapi di level WTA, tidak ada lawan yang benar-benar mudah.
Beban Ekspektasi dan Kedewasaan Mental
Menjadi unggulan berarti siap menghadapi dua lawan sekaligus: petenis di seberang net dan ekspektasi diri sendiri. Janice kini harus belajar mengelola tekanan itu — menjaga fokus, tidak terburu-buru mencari winner, dan tetap tenang di poin-poin krusial.
Di sinilah kedewasaan mental menjadi kunci. Dalam beberapa turnamen sebelumnya, Janice menunjukkan peningkatan signifikan dalam membaca momentum pertandingan. Ia lebih sabar dalam reli panjang, lebih berani mengambil risiko di momen penting, dan lebih disiplin dalam strategi.
Auckland menjadi panggung untuk menguji apakah perkembangan itu benar-benar matang.
Simbol Harapan Tenis Indonesia
Status unggulan Janice juga membawa makna lebih luas. Di tengah minimnya representasi Indonesia di level WTA, kehadiran Janice sebagai unggulan kelima adalah sinyal kebangkitan. Ia menjadi simbol bahwa petenis Indonesia mampu bersaing di panggung internasional, bukan hanya sebagai pelengkap undian.
Setiap langkah Janice di Auckland akan disorot — oleh penggemar, pengamat, dan generasi muda yang bermimpi mengikuti jejaknya. Beban itu berat, tetapi juga membanggakan.
Target Realistis dan Mimpi Besar
Secara realistis, mencapai semifinal atau bahkan final akan menjadi pencapaian luar biasa. Namun bagi Janice, setiap pertandingan adalah investasi jangka panjang — membangun kepercayaan diri, mengumpulkan poin, dan memantapkan posisinya di peringkat dunia.
Unggulan kelima di Auckland bukanlah puncak. Ia adalah titik awal dari babak baru. Babak di mana Janice tidak lagi bertanya apakah ia pantas berada di sini, melainkan seberapa jauh ia bisa melangkah.
Langkah Tenang di Tengah Sorotan
Saat bola pertama dipukul di Auckland, Janice Tjen akan membawa lebih dari sekadar raket. Ia membawa cerita tentang ketekunan, mimpi yang diperjuangkan diam-diam, dan ambisi untuk terus melangkah lebih jauh.
Unggulan kelima hanyalah angka di kertas undian. Yang akan menentukan segalanya adalah bagaimana Janice menjawabnya di lapangan — dengan fokus, keberanian, dan keyakinan bahwa ia memang layak berada di antara yang terbaik.
Dan di Auckland, dunia tenis akan kembali mengamati: apakah ini awal dari musim terbaik Janice Tjen?
