Kemenangan Wimbledon biasanya identik dengan pesta elegan, jamuan mewah, dan sesi foto resmi bersama Keluarga Kerajaan Inggris. Namun bagi satu juara tenis ini, perayaan gelar Wimbledon justru dimulai dari sebuah klub malam legendaris London bernama Infernos—tempat yang jauh dari kesan formal dan aristokrat.
Cerita ini menjadi salah satu kisah paling unik dalam sejarah Wimbledon, menggabungkan euforia pesta malam dengan kehormatan bertemu keluarga kerajaan di hari berikutnya.
Dari Centre Court ke Dance Floor
Setelah mengangkat trofi Wimbledon, sang juara tak langsung menuju jamuan resmi. Bersama beberapa sahabat dekat, ia memilih merayakan kemenangan di Infernos, sebuah klub malam terkenal di kawasan Clapham yang sudah menjadi ikon hiburan malam London selama puluhan tahun.
Di sana, ia larut dalam euforia—musik keras, lampu strobo, dan suasana pesta penuh kebebasan. Tidak ada jas rapi atau gaun formal, hanya tawa, tarian, dan perayaan kemenangan dengan cara paling manusiawi.
“Saya ingin merayakan dengan cara yang terasa nyata—tanpa protokol, tanpa formalitas,” ungkap sang juara.
Bangun dengan Status Legenda
Beberapa jam setelah berpesta, realitas kembali menghampiri. Undangan resmi menanti: pertemuan dengan Keluarga Kerajaan Inggris, bagian dari tradisi Wimbledon yang sakral.
Dengan mata yang masih menyimpan sisa lelah malam sebelumnya, sang juara kembali mengenakan busana rapi, berdiri tegap, dan bersalaman dengan para anggota keluarga kerajaan di Istana Buckingham—sebuah kontras yang nyaris seperti adegan film.
Dua Dunia, Satu Hari
Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, ia menjalani dua dunia yang sangat berbeda:
| Malam | Siang |
|---|---|
| Infernos | Istana Buckingham |
| Musik keras | Keheningan protokoler |
| Sneakers & kaus | Jas resmi |
| Tarian & tawa | Etika kerajaan |
Kontras inilah yang membuat kisah ini menjadi legenda kecil di balik Wimbledon—mengingatkan dunia bahwa di balik ketenangan dan keanggunan tenis, ada manusia biasa yang juga ingin merayakan hidup.
Reaksi Publik: Ikonik dan Menghibur
Kisah ini langsung menjadi viral dan mendapat respons positif. Banyak penggemar memuji kejujuran dan sisi “manusiawi” sang juara. Ia dinilai berhasil menunjukkan bahwa menjadi atlet elite tidak berarti kehilangan kebebasan untuk menikmati momen pribadi.
Media Inggris bahkan menyebutnya sebagai:
“The most relatable Wimbledon celebration ever.”
Perayaan gelar Wimbledon di Infernos sebelum bertemu Keluarga Kerajaan bukan sekadar cerita lucu—ini adalah potret keseimbangan antara kemegahan prestasi dan kebebasan pribadi. Di balik sorotan Centre Court, para juara tetaplah manusia yang ingin tertawa, menari, dan merayakan hidup.
Dan mungkin, justru di sanalah letak keindahan olahraga: prestasi besar tetap bisa dirayakan dengan cara yang sederhana dan jujur.
